MENGISI KEMERDEKAAN

Gambar

Ketika itu saya menonton acara di salah satu televisi nasional yang menayangkan prestasi penyanyi-penyanyi dalam negeri kita yang menjadi nominasi di ajang musik internasional. Para pembawa acaranya menyatakan kebanggannya bahwa penyanyi-penyanyi tersebut sudah menjadi nominasi saja sudah merupakan suatu prestasi yang besar. Sudah saatnya kita tidak lagi kebarat-baratan atau kekorea-korean tapi mulai bangga dengan keindonesiaan kita.

Saya sangat sepakat dengan apa pesan yang utarakan para pembawa acara tersebut. Namun, disamping pesan tersebut entah disadari atau tidak para pembawa acara tersebut itupun lebih kebarat-baratan. Lihatlah, berapa banyak kata-kata keasing-asingan yang keluar dari tutur kata mereka daripada keindonesiaan mereka.

Kata-kata pembuka dan penutup di televisi yang selalu diselang-seling dengan bahasa asing, bukanlah hal yang salah. Namun, kebiasaan tersebut seringkali melunturkan kebiasaan orang-orang negeri ini menghargai bahasa Indonesia. Malas mencari arti dan padanan kata dari kata-kata asing membuat kita lebih sering mencaplok kata-kata itu mentah-mentah digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Mengutip kata Kuntowijoyo seorang penulis mencetuskan sebuah istilah  “mental klien” di negeri ini.  Mental klien maksudnya kualitas mental yang dimiliki oleh suatu bangsa yang masyarakatnya menilai  kualitas diri dan bangsanya lebih rendah atau inferior daripada negara lain.

Banyak contoh yang dapat diambil, mulai dari ketergantungan kepada produk asing dibanding produk lokal sampai  kelatahan menggunakan bahasa asing  dalam percakapan sehari-hari  agar terlihat lebih gaul dan menarik. Sadar atau tidak mencampuradukan bahasa asing dan Indonesia  membuat seolah “nginggris” atau “ngemandarin” atau  “ngearab” itu jauh lebih tinggi daripada bahasa Indonesia sendiri.

Bisa kita lihat ketika orang lebih senang mengucapkan Happy Birthday, Met Milad ketimbang Selamat Ulangtahun. Bahkan di hari lebaran kemaren saya menemukan betapa banyak orang yang mengucapkan selamat hari lebaran dengan menggunakan kata-kata bahasa  arab dibandingkan bahasa Indonesia.

Padahal, jika ditelisik pada sejarah kesusateraan Indoensia yang berasal dari bahasa melayu itupun merupakan suatu kekayaan yang tak ternilai. Namun, masih bisa dihitung dengan jari orang-orang yang ahli kesusasteraan kurang terlihat perannya di negeri ini. Entah kemana ahli-ahli sastra lulusan dari universitas di negeri ini?mereka pantasnya punya beban untuk menularkan kebanggan akan bahasa di negeri ini. kesan berat dan kaku terhadap bahasa Indonesia sudah seharusnya dipatahkan.

Di stasiun tv yang samapun, di program acara berbeda yang menggundang salah seorang puteri Indonesia pun menggambarkan  keprihatinan dari anak muda Indonesia. Bagaimana tidak? Seorang puteri dari ajang kecantikan yang pastinya kecantikan, berkelakuan baik serta kepandaian melekat di dalam dirinya terasa aneh ketika  tidak mengenal sejarah bangsanya sendiri.  Satu pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang tidak sulit dan anak sekolah dasarpun mungkin tahu. Pertanyaannya adalah  darimana asalnya Sisimangaraja? Puteri tersebut menjawab dari  Yogyakarta.

Melihat tayangan itu, saya terheran-heran dan  miris kejadian tersebut.  Sebegitu lupakah kita akan sejarah yang sepantasnya menjadi pengetahuan umum karena tanpa berkaca darinya kita juga tidak akan pernah ada saat ini. Atau karena era globalisasi kita memilih ngikut trend dan fasih berbahasa Inggris atau perancis namun amnesia dan megap-megap dengan sejarah dan bahasa kita sendiri.

Bangsa kita,masih harus banyak belajar. Memang hidup di masa kini mengharuskan kita  tidak gagap teknologi dan mampu berdaya saing . Akan tetapi, janganlah demi mengejar kemajuan kita melupakan dan melunturkan nilai-nilai kebangsaan kita. Bangsa ini jangan bangga menguasai teknologi tapi membaca dan menulispun jarang. Apalagi minim pengetahuan tentang sejarah dan pengetahuan tentang negeri ini.

Lantas bagaimana cara kita  mengisi kemerdekaan? Pastikan diawali dengan rasa hormat kita kepada para pahlawan kita yang tanpa mereka negara ini tidak pernah ada. sulit memang menghargai tanpa melihat, semua itu dapat dilakukan jika ada usaha untuk “merasa”, merasa memiliki, merasa bertanggungjawab dan merasa lainnya.  Hal terakhir yang penting untuk dilakukan untuk mengatasi mental klien adalah menemukan keIndonesiaan kita sendiri dan munculkan itu dalam hidup masyarakat lokal maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s