Hatta : Jejak yang Melampui Zaman

Gambar

RINGKASAN BUKU :

SERI BUKU TEMPO : HATTA

JEJAK YANG MELAMPUI ZAMAN

“Menulis para tokoh mempunyai kompleksitasnya sendiri, kami harus pandai- pandai mencari sudut pandang yang tak dilihat media atau penulis lain” (Kata Pengantar, Empat Serangkai di Proklamasi 72,hlm.x)

Seri buku yang diterbitkan oleh Tempo mengenai Muhammad Hatta ditulis dengan mengikuti rekam jejak beliau di empat periode hidupnya, yaitu Bukittinggi, Eropa,Jawa serta tanah bungan.

Pada bagian pengantar buku ini, Goenawan Mohamad menuliskan Hatta sebagai pengingat ulung. Ia menghafal setiap detail hal yang pernah ia alami dalam hidup : tempat ia membeli buku di belanda, perkenalannya dengan Sukarno, hingga apa yang ia lakukan di Digul dan Banda Neira, ketika menjadi orang buangan.

Lembaran berikutnya dalam buku ini bercerita masa-masa kecil  Hatta yang dikenal sebagai pribadi sederhana dan disiplin tingkat tinggi. Hatta adalah orang yang tepat waktu mulai dari jam bangun tidurnya, sembahyang sampai berangkat kerja. Masa remaja tak hanya diisi dengan hal serius saja, dia juga suka bermain bola. Ia pernah tergabung di klub sepak bola Young Fellow. Hatta seringkali menjadi pemain gelandang tengah dan sesekali menjadi pemain bek.

Beranjak dewasa, Hatta melanjutkan pendidikan Di belanda. Disana,  Hatta mematangkan diri sebagai pemikir dan aktivis gerakan. Salah satu gerakan itu  ialah Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia.  Salah satu buku yang terbit dihari ulang tahun organisasi yaitu  ‘Indonesia di tengah-tengah Revolusi Asia’. Terbitnya buku itu disambut oleh kritik keras pers Belanda.  Publikasi lainnya adalah Hindia Poetra. Bebebrapa dokumen menyebut rumah yang kerap dijadikan kantor redaksi publikasi adalah rumah tinggal Hatta yang terakhir di Belanda sebelum kembali ke Indonesia. Di belanda, Hatta belajar dan bergaul serta berdebat dengan tokoh komunis seperti Semaun dan Tan Malaka. Hatta juga mencatat sejarah dengan diabadikannya namanya  sebagai nama jalan di Belanda. Menurut R.H.Claudius ,penetapan nama Hatta sebagai jalan karena ia dinilai sebagai pemimpin pergerakan di Indonesia, negarawan, dan wakil presiden yang sempat di tahan di Belanda karena aktivitas politiknya.

Mengikuti perjuangan tanpa kekerasan ala Mahatma Gandhi, ketajaman pena Hatta dan kekuatan analisisnya justru lebih digdaya daripada tembakan manapun. Hatta memang berbeda dengan Sukarno. Bila Sukarno terkenal lewat pidato dengan suara yang berwibawa, Hatta  terkenal lewat tulisan-tulisannya yang tajam dan menggetarkan. Dia memang satu-satunya bapak bangsa kita yang paling banyak menulis.

Beberapa tulisannya yaitu,   Di Koran Daulat Ra’jat , Bung Hatta memuat tulisan yang isinya meminta agar pemimpin tak “didewa-dewakan” sebab baginya yang perlu adalah “pahlawan-pahlawan yang tak punya nama”. Selanjutnya, tahun 1960-an Hatta menerbitkan   sebuah tulisan Demokrasi Kita sebagai  reaksi atas munculnya kediktatoran Sukarno. Tulisan ini mengingatkan pembacanya tentang keniscayaan “hukum besi daripada sejarah dunia”. Akibatnya, tulisan tersebut dianggap sebagai bacaan terlarang. Tiga hari sebelum ia mundur dari jabatan wakil presiden dan menandai akhir cerita Dwi-Tunggal, Hatta menulis  Risalah yang berjudul Lampau dan Datang. Isi tulisan tersebut merupakan kecaman Bung Hatta  kepada para politisi yang menjadikan partai sebagai tujuan dan negara sebagai alatnya. Menurutnya, demokrasi dapat berjalan baik bila ada rasa tanggungjawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik.

Hatta dan Sukarno juga berbeda karena Sukarno lebih suka cara-cara penggalangan kekuatan massa sedangkan Hatta –Sjahrir percaya pendidikan dan kaderisasilah yang harus diutamakan.

Sikap yang paling khas dari Hatta ia bisa menjadi seorang yang rasional tanpa kebarat-baratan. Yang diambil dari visi barat adalah sikap disiplin dan keterampilan berorganisasi. Sementara itu, pemikiran Hatta yang beroritentasi pada kerakyatan dan pemberdayaan hal-hal lokal.

Pada akhir tulisan dalam buku ini, dapat ditarik kesimpulan Hatta merupakan sosok manusia  yang hidup dengan kecintaan mendalam pada keluarga, cita-cita yang keras akan sebuah bangsa yang merdeka, serta rasa hormat yang tinggi pada dunia buku dan ilmu pengetahuan. Hatta adalah  sosok pemimpin yang langka karena senantiasa memperlihatkan moral tinggi dalam bergerak baik pribadi maupun dalam bermasyarakat dan dalam berpolitik.  Sosok pemimpin inilah  yang saat ini negeri ini rindukan hadir di era demokrasi yang pernah menjadi salah satu hasil buah pikir yang dituliskannya.

Buku serial yang ditulis Tempo ini cukup ringan untuk dibaca dan tidak berat seperti buku-buku biografi lainnya. Sayangnya, karena buku ini ditulis berdasar sudut pandang beberapa orang yang diwawancarai sering terlihat perbedaan penilaian seperti apa Bung Hatta. Namun, bagi pemula yang membaca buku ini pasti menemukan hal-hal baru yang tidak pernah ditemukan selama pernah belajar sejarah mengenai kehidupan Hatta.

Selamat Membaca dan terus menghargai sejarah pendiri bangsa kita J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s